09 Juni 2020

Pernah Gak Sih

Pernah gak sih kalian udah mau nulis yang isinya curhatan panjang kali lebar kali tinggi sama dengan luas, terus tiba-tiba gak jadi. BATAL karena mood mendadak hilang kayak ditiup angin puting beliung?

Yang menyebalkan itu dari tinggal di PONTIANAK adalah PDAMnya!! Nyebelin banget. Air deras cuma pas malam sampai subuh. Siangnya dong, ambyar. Inginku berkata kasar. Mana lagi pandemi lagi. Orang disuruh rajin cuci tangan, pulang dari luar rumah ganti baju, rajin ngepel dan bebersih... eh, siang bolong air PDAMnya ngalir kecil. Nyebelin gak sih. Iya alhamdulillah kalau pas gentong besar isi air, kalau pas kosong gimana coba.

27 Mei 2017

Tentang Keluarga bagi Saya

Menurut kbbi online, ke·lu·ar·ga n 1 ibu dan bapak beserta anak-anaknya; seisi rumah; 2 orang seisi rumah yang menjadi tanggungan; 3 (kaum -- ) sanak saudara; kaum kerabat; 4 satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat.

Well, keluarga... hm, sudah hampir lima tahun berstatus sebagi istri. Dan dua tahun menjadi seorang ibu. Saya sangat sangat bersyukur untuk dua status yang saya punya itu. Beberapa waktu lalu saya sempat baper seharian penuh. Khadimat di keluarga mama, gak percaya kalau saya lulusan S1 farmasi plus sudah pernah disumpah apoteker. Dengan seenak njeplaknya, dia bilang gini. "Sayang duitnya, Mba... masa gak kerja sih?"

Hah. Dengan menahan emosi sambil istighfar, saya menjelaskan dengan menekan nada suara saya agar intonasinya tidak naik hehe, kalau prioritas saya untuk sekarang adalah keluarga kecil saya. Dan ilmu yang udah saya pelajari, insya Allah gak sia-sia. Akan ada masanya insya Allah. Semua itu sudah saya selipkan pada doa-doa saya.

Sebenarnya saya gak perlu merasa baper atau tersinggung, sih. Tapi saya juga emak biasa, yang kadang kalau lihat apotek atau mencium aroma rumah sakit (wkwk), rasa kangen praktik itu muncul. Tapi... lagi-lagi tapi... ketika Mursyid saya iseng tanyakan, "Nak, kalau ummi kerja gimana?"

Spontan anak itu menjawab dengan mimik wajah kesal campur sedih. "Ndak boleh! Ummi sama ucit aja. Biar abah ucit Syahri yang kerja!"

Itu... gak ada yang ngajarin ngomong begitu padahal... antara heran dan seneng. Berarti Mursyid memerlukan saya ada di samping dia. Dan ya, saya juga gak tega kalau jauh dari anak itu. Wong bangun tidur yang dicari ummi, mau makan ummi, mau main sama ummi... yah kaaan. Baper deh saya :').

Kalau menurut kbbi, definisi keluarga ya seperti di atas. Namun menurut versi saya, keluarga bukan hanya sekadar status ayah-ibu-anak saja. Tapi, keluarga itu semacam perkumpulan manusia, yang mana cinta bertumbuh dan menuntun kita ke jalan yang Allah ridhai. Di sana ada rasa ingin selalu mengingatkan pada kebenaran, dengan tak memadamkan rasa hangat yang sumbernya adalah sayang. Makanya, terkadang saya menemukan rasa hangat selayaknya keluarga, padahal tak ada ikatan darah. Ah, kedekatan tadi disebabkan oleh iman. Contohnya saat kita berkumpul dalam suatu majelis ilmu untuk semakin mengenal-Nya. Di sana, ada ruh-ruh yang diakrabkan oleh iman. Ada cinta yang berpendar, senyum-sapa tulus, hati yang terpaut karena Dia.

Lain lagi, ada banyak anak manusia yang tidak mengenal bagaimana wajah ibu yang melahirkannya. Tidak tahu seperti apa bau badan sang ayah yang dulu menggendongnya saat tangis si anak pecah untuk pertama kali ke dunia. Keluarga? Jika merujuk pada kbbi tentu saja masih. Tapi... akhirnya, si anak menemukan makna keluarga pada 'tempat' lain yang ia definisikan sendiri sebagai keluarga, meski statusnya hanya orang tua angkat.

Jadi mau di manapun saya, ketika saya menemukan orang-orang yang menerima saya apa adanya, saling menghargai serta menghormati. Ada rasa tolong menolong. Ada cinta serta sayang meski tak diungkap dengan lisan, saling menasihati dalam kebaikan, saya akan menganggap mereka selayaknya saudara. Sebab, ruh-ruh yang diakrabkan oleh iman, kelak akan dipertemukan lagi oleh Allah di jannah-Nya. Aamiin, insya Allah.

06 April 2017

Menyapih Ala Drama Korea #eh

Segala macam teori dilahap sejak Mursyid usia 16 bulan. Hah. Emang umminya aja sih, yang gak telaten alias gak istiqomah buat sounding. Dibilang males gak juga. Tepatnya adalah saya yang gak rela kehilangan momen-momen indah saat menyusui huhuhu.

Adakalanya diingatkan pak suami kalau Mursyid sudah besar. Di situ saya merasa baper dan laper.

Inget banget waktu pertama kali denger tangisan dia pecah di dunia #kacakali. ASI yang keluar dikit banget. Yang tiap hari makan katuk tapi kok gak ngaruh. Suplemen A-Z dilahap cuma ya ampun, sampai nangis bombay lihat hasil pumping hanya berapa ml. Tapi saya gak nyerah untuk mengASIhi Mursyid.

Dan waktu memang bergulir dengan cepatnya bak kilatan cahaya ... #apabanget

Dua tahun itu mendekat. Maka bismillaah... saya kuatkan azzam yang jatuh bangun untuk menyapih Mursyid.

"Nak, Mursyid sudah besar ya. Nenennya ganti buah, kue atau susu mau?"

Begitu yang kerap saya ucapkan di siang hari. Dari sejak usia setahun sampai 18 bulan nenen di siang hari 5-6 kali, lama-lama berkurang seiiring waktu. Kalau malam, hanya sesekali dia bangun.

Tepat pada usia 24 bulan, di siang hari dia hanya nenen 2-3 kali. Malamnya sudah jarang bangun dan minta nenen.

Saya terus sounding dan sounding yang intinya, kalau sudah besar, Mursyid ndak perlu nenen lagi.

Gak apa ngaret alias gak tepat dua tahun. Dan yap, bulan februari Mursyid sudah disapih. Tapi entah, ini kebetulan atau gimana. Waktu itu saya gak enak badan dan minta tolong bekam pak suami. Selesai bekam, baluran bau minyak butbut semerbak di badan saya haha. Saat Mursyid minta nenen, saya sounding ndak boleh nen. Dan dia balas, "Nen mi au butbut. Ait." (baca: nenen ummi bau butbut. Pahit). Hah? Hahahaha. Baiklah...

Umminya malah yang sering galau dan kangen huhu. Mursyid sesekali minta, tapi dia sendiri yang geleng-geleng kepala saat saya sodorin wkwkwkwk.

Inti dari penyapihan, emaknya dulu yang kudu setrong. Minta sama Allah agar dimudahkan. Lalu sounding dan sounding.

Setelah penyapihan, Mursyid gak minum susu formula. Sebelumnya pernah tanya dengan DSA Mursyid. Kata beliau, gak perlu tambahan sufor asal menu makanannya seimbang. Sayur yang agak kendala. Mursyid gak terlalu suka sama daun-daunan. Tapi kalau macam wortel, kentang, tauge, dan sayur lain yang bukan daun, Mursyid masih doyan alhamdulillah. Paling saya bikin nugget sayur yang isinya bayam hehe. Tapi alhamdulillah juga, Mursyid suka banget kalau sayur berkuah. Jadi saya tetep masakin dia sayur bayam atau sop atau asam. Gak apa yang daun sering dia disingkirin di pinggir piring hihi. Umminya kudu istiqomah mengenalkan dia dengan sayur daun. Ah, ala doyan karena biasa ya, Nak... wkwk.

Segala puji bagi Allah. Azzam saya menyusui Mursyid sampai dua tahun (meski lebih hehe) Allah kabulkan. Saya gak minta sama Allah supaya ASI saya berlebihan atau kurang. Tapi dicukupkan. Semoga dengan adik-adiknya Mursyid juga cukup, aamiin aamiin aamiin yaa Rabb. Alhamdulillah juga, gak drama-drama korea banget sih pada proses penyapihan. Paling saya yang sesekali mewek sesenggukan lihat Mursyid waktu tidur karena kangen nenenin dia haha. Judul tulisan ini emang lebay dan berlebihan wkwk.

Semangat mengASIhi dan menyapih bagi yang sudah waktunya untuk disapih!

05 April 2017

Rumah Baru

Bukan. Bukan rumah baru saya. Ini rumah orang tua yang baru aja pindah. Sebelumnya rumah ortu di perumahan menteng metland. Untuk masalah keamanan mah, jangan ditanya. Tamu kudu wajib setor tanda pengenal kalau mau berkunjung.

Terus kenapa pindah? Jadi, yang satu deretan rumah dengan ortu itu, subhanallah banget. Terutama sebelah kiri rumah ortu. Gak mengeneralisir suatu agama atau suku lho, hanya mbok kalau mau pelihara anjing itu jangan sampai dzholim atau membuat gak nyaman ke orang lain. Baunya itu sampai ke rumah! Ortu sudah bolak-balik memberi peringatan, bahkan sudah ditegur Pak RT. Tapi ya emang orangnya ndableg kali, ya. Segala macam cara udah dilakukan sama ortu untuk kasih tahu. "Woy! Pelihara anjing boleh. Tapi dimandiin dan kotorannya diurusin biar baunya gak ke mana-mana."

Perkara ini bukan sebulan atau enam bulan. Tahunan! Dengan segala berat hati dan pertimbangan A-Z. Ortu memutuskan hijrah ke tempat yang lebih layak.

Dan taraaaa! Saya suka dengan lingkungan rumah baru ortu. Pertama, dekat pasar dan masjid. Cukup jalan kaki kurang dari lima menit buat sampai kedua tempat itu. Pasarnya itu gak nahaaan. Harga juga lumayan miring untk sandang, apalagi kalau dibandingkan sama harga di Pontianak, haha. Ya jelaslah agak jauh beda. Secara gak kena ongkir hehe.

Kedua, komplek rumah ortu yang sekarang dekat dengan beberapa rumah kawan SMA saya. Dan seminggu lalu, saya udah sempat ketemuan dong dengan salah satu kawan saya, hehe. Nostalgia membawa kenangan #eh #uhuks. Ketiga, di komplek rumah ortu yang ini, gak banyak anjing kayak  sebelumnya. Keempat, tetangga kanan-kiri, pokoknya sederetan alhamdulillah muslim. Ya kali, di pangkalan ojek dekat rumah terpampang nyata tulisan dan beberapa poster "Israel Terorist!" atau "Save Gaza". Plus bendera Palestina. Paling kerjaan dari pengurus DKM masjid istiqomah, hohoho.

Minusnya? Ada dong. Keamanan di komplek rumah ini kurang terjaga. Satpamnya antara ada dan tiada. Setiap keluar-masuk gerbang rumah sendiri, kudu digembok dan bawa kuncinya. Ribet deh. Apalagi pas papah denger dua minggu lalu rumah yang dekat pasar kecolongan motornya siang bolong ckckck. Katanya sih, pencurinya pakai cairan kimia buat ngerusak gembok. Mungkin pakai asam pekat kali yes. Wah. Papa makin-makin aja worry-nya. Tapi ya sudahlah... ikhtiar kenceng lalu pasrah. Sebaik-baik penjaga hanya Allah.

Poin pentingnya adalah: JANGAN DZHOLIM sama tetangga. Ini #ntms banget buat saya juga. Mbok kalau pelihara hewan ya monggo. Tapi inget, ada hidung orang lain yang kudu dijaga juga.

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (Muttafaq ‘alaih).

Nah. Ini self reminder pake bangetnget buat saya.

Lalu poin selanjutnya, kalau pilih lingkungan rumah emang yang kudu kondusif, aman dan cukup ramai. Yang jelas buat saya, dekat dengan masjid, puskesmas dan tempat belanja hehe.

So, buibu, yuk mari. Kita ikhtiar menjaga lingkungan sekitar kita agar nyaman dan tenteram untuk ditinggali bersama. Gak hanya untuk keluarga, tapi juga tetangga kita.

09 Maret 2017

Beberapa Hal yang Wow Bagi Saya Setelah Menikah



Saat menjadi istri dan ibu, saya kadang merenung sendiri … ternyata banyak hal wow yang bisa saya lakukan. Bukan mau pamer atau sombong sih. Sekadar share aja, hehe. Saat masih gadis, saya gak bisa bikin kue/roti (tapi kalau masak standar masih bisalah, ya…), saya gak bisa pasang gas, gak bisa angkat galon ke dispenser hahaha, saya gak terlalu suka sama yang namanya kerajinan tangan, saya gak terlalu peduli sama kebersihan serta keindahan wkwk, mmm… apa lagi ya. Ya intinya, ketika saya berstatus sebagai istri dan ibu, apa-apa yang tadinya saya gak bisa, berubah jadi yang saya bisa lakukan.

08 Maret 2017

24 Jam Rasa Sekejap



Iya bangeeeet. Meski bangun pagi (semoga istiqomah, aamiin) diusahakan jam tiga atau setengah 4, tapi waktu terasa sebentar banget. Selesai QL, ngulang hafalan sebentar. Langsung bebenah sambil nunggu adzan subuh. Setelah sholat, lanjut masak untuk sarapan. Alhamdulillah, Abahnya Mursyid super banget dan bisa diajak kerja sama. Beliau belanja sayur dan yang mandiin Mursyid sebelum siap-siap kerja. Sambil masak, nyuapin Mursyid. Meski ada khadimat (yang bantu nyuci Alhamdulillah) tapi tetep aja. Masak-masak-masak, jarum jam udah menunjukkan pukul setengah sembilan atau jam sembilan.
Dari sini

07 Maret 2017

Saya Kangen Gak?



Judulnya emang apa banget. Tapi maksudnya sih, lagi tanya sama diri sendiri. Kalau dihitung-hitung, kurang lebih hampir empat tahun gak berhubungan dengan profesi Apoteker. Setelah disumpah, ikut suami yang lagi kuliah ke Jogja setahun. Mau kerja di sana juga nanggung banget. Alhamdulillah, hamil kedua di Jogja (Mursyid), makin gak menguatkan azzam kerja hehe. Pasca melahirkan, ditawarin kerja lagi sama suami. Beliau sih gak melarang. Cuma disuruh menimbang dan menakar #lha… saya yang sungguh gak rela harus ninggalin bayi unyu macem Muhammad Tsaqif Al-Mursyid. Meski bisa ASI-perah, tapi entahlah. Rasa gak tega itu, bikin saya meleleh-leleh jika harus kembali ke Apotek.
Perasaan sedih atau kangen itu kadang muncul kalau lihat jas apoteker di lemari atau ijazah S.Farm plus Apt-nya. Nyess aja gitu pas baca Rizki Khotimah, S.Farm., Apt. 
foto dari akun IG sendiri hehehe


24 Februari 2017

[SBT: Friendship] Chapter 4 - Misi Wanda



SBT adalah kepanjangan dari Story Blog Tour, yang merupakan salah satu program komunitas menulis One Week One Paper. Dengan adanya SBT ini, anggota belajar untuk menyelesaikan satu cerita bersama-sama. Tema SBT kali ini adalah FRIENDSHIP!
Settingnya anak SMA. Yaaa you know lah gimana serunya masa-masa itu… hohoho. Oh iya, cerita di bawah ini fiksi, yaaa! Kalau ada kesamaan nama tokoh, nama sekolah dkk, itu semua gak di sengaja kok, hehe.
Semoga cerita SBT kali ini tetap bisa dinikmati seperti SBT-SBT sebelumnya. Semalat membacaaaa :) Komen yah. Kritik dan sarannya ditungguuu <3 <3 <3
Btw, ini cerita sebelumnya. Kalau kamu mau nyambung baca ceritanya, nikmati sesuai urutan:
  1. Nana: Misteri Dana Operasional
  2. Depi: Pertemuan
  3. Naimas: Perbincangan Di Kafe 

26 Januari 2017

Kamu Me Time Apa?



Beberapa waktu lalu di facebook, saya mendapati tulisan yang cukup viral di kalangan mamah-mamah muda. Tentang? Itu lho … tulisan yang intinya, seorang bapak memperbolehkan sang ibu berjalan-jalan sendiri tanpa dirusuhin urusan tetek bengek rumah tangga terutama anak, hehe. Kata lain yang lebih beken dan familiar adalah me time.
gambar dari sini

25 Januari 2017

Pontianak Post 5 Juni 2016



                Alhamdulillah yah, tahun kemarin yang baru beberapa hari lewat, tepatnya tanggal 5 Juni 2016, hehe. Terbit cerpen pertamaku di media! Ayey! Meski koran lokal, tapi itu juga udah syukur banget. Cerpen ini awal mulanya berasal dari tantangan untuk nge-remake dongeng yang diadain sama Ruru di grup OWOP (one week one paper). Well, sebenernya sebagai seorang ibu muda, ada beberapa dongeng dari luar negeri yang agak gak sreg di saya. Bukan gak suka sepenuhnya kok. Tapi hmm, ambil kisah Putri Cinderella yang ceritanya udah melegenda seantero dunia. Tentang seorang anak tiri yang disiksa oleh ibu dan saudara-saudara tirinya, lalu ada ibu peri dan triiiing! Jadilah putri dalam waktu semalam, datang ke pesta dansa kemudian bertemu pangeran kerajaan. Terjadilah insiden ketinggalan sepatu kaca tepat jam 12 malam teng, karena jika melewati jam 12 malam, sang putri akan kembali lagi mengenakan pakaian compang-campingnya. Nahas pangeran menemukan sepatu kaca yang tertinggal karena Cinderella terburu-buru meninggalkan ruang pesta. Kadung jatuh cinta, pangeran itu akhirnya mencari ke mana-mana pemilik sepatu kaca itu. Sampailah pada akhir cerita yang happy ending, pangeran bertemu Cinderella dan hidup bahagia selamanya.

                Hm, ketika nanti Mursyid mendengar kisah itu, akan saya jelaskan pesan moralnya begini:

                Kesulitan hidup itu adalah tarbiyah dari Allah. Lantas tujuan bersabar bukan karena dunia semata (mendapat harta, pasangan kaya dsb). Tapi karena percaya janji Allah itu pasti. Jika di dunia Allah belum kabulkan, maka surga adalah segalanya.

                Dan akhirnya, saya mendapat ide membuat cerpen dengan kisah seperti ini. Cekidot~

Ganti Nama Buat Ngeksis (?)

Yuhuuu....

Setelah berbulan-bulan lamanya gak nulis di blog, hoho. Bukan. Tentu aja ganti alamat blog bukan buat ngeksis. Tapi lebih megarah pada kepraktisan penyebutan. Iya, secara kiki-diarysunflower itu lumayan ribet gimana gitu. Kalau penyukabungamatahari juga ribet sih tapi ya mendinglah haha *ngeles.

Pingin nulis di blog lagi karena yaa, semoga ada yang baca (pede buedh gue haha). Dan pada tulisan yang saya buat, ada semacam hikmah meski berserakan yang bisa diambil *tsaaah. 

Gak mau kebanyakan janji. Tapi ya semoga aja bisa istiqomah. 

Dan, berharap kelak, umur suami dan Mursyid lebih panjang dari saya, dan berkah tentunya, sehingga bisa membaca tulisan umminya yang kadang gak jelas ini (seringnya jelas kok haha). Bismillah~

18 Oktober 2016

Jembatan Kayu dan Perahu Kertas Alya

Alya melipat surat yang semalam ia buat. Subuh tadi ia menyelinap keluar rumah dengan sangat hati-hati. Takut kalau-kalau ada yang menyadari kepergiannya. Ditemani gadget dan headset yang terpasang di telinganya, Alya menembus gerimis yang dirasa amat ritmis. Di sinilah sekarang ia berdiri. Di atas jembatan kayu tempat dulu Alya dan Tezar kecil banyak menghabiskan waktu.

"Alya, coba kamu hanyutkan perahu yang sebelumnya kamu tulis harapanmu. Kalau sejauh mata kita memandang, perahunya gak rusak berarti terkabul." Begitu Tezar kecil pernah berkisah suatu petang.
Sebentar lagi mimpi Alya terwujud. Dulu sekali, kertas bertuliskan nama Tezar dihanyutkan Alya. Bukan. Alya tahu apa yang diinginkannya menjadi nyata sekarang ini bukan karena perahu kertas. Benar bahwa Tezar akan mengikrarkan janji di hadapan Tuhan pagi ini; menjaga Alya seumur hidup.

Beberapa potong episode antara Alya dengan Elisa terputar sendiri. Lagu Lee Hi-Can You Hear My Heart mengalun merdu. Rasa sesak yang berjejalan sejak lama, kian mendera hati Alya. Menyebabkan perih teramat sangat. Tanpa sadar, Alya makin terjebak dalam labirin kenangan. Penyesalan? Iya. Meski kadarnya tak banyak. Tezar melamar Alya beberapa bulan lalu. Seperti mimpi Alya selama ini. Alya akan memiliki raga Tezar dalam hitungan jam lagi, namun tidak dengan hati Tezar. Ya. Alya sadar itu. Sosok Elisa memang telah hilang, namun rindu Tezar tak pernah berubah. 

Apakah cinta harus berakhir dengan pernikahan? Pertanyaan itu terus memenuhi kepala Alya. Tapi tentu saja jika mendadak semua ini dibatalkan, banyak hati yang tersakiti.

Apa ini hukuman dari lo, El? Apa lo merestui? Apa itu cinta, El?

Alya melarungkan surat yang ia sudah selesai ia bentuk menjadi perahu kertas. Sejauh mata Alya memandang, perahu itu masih utuh. Tidak hancur. Sesungging senyum hadir di bibir Alya. Kakinya melangkah pulang. Bebannya sedikit hilang bersama dengan perahu kertas. Ada harapan yang terbit diam-diam. Ada kesemogaan yang Alya amini.

Dear, Tezar.

Entahlah ada apa dengan gue. Dari kemarin, gue berdoa pada Tuhan untuk mengambil nyawa gue. Tapi nyatanya sampai semalam saat surat ini ditulis gue masih bernapas. Tatapan kosong mata lo saat memandang gue, cincin yang lo lingkarkan di jari manis gue, senyum lo, semua itu terasa dingin. Gak ada kehangatan seorang Tezar. Gue ragu melangkah. Bahagia itu apa, Zar

Gue ... udah minta sama Tuhan untk mengambil nyawa gue setelah kita nikah. Yang jelas, gue dulu yang ninggalin lo dan Elisa... ah, anggap aja ini hukuman buat gue karena mengoyak mimpi lo dan Elisa. Semoga suatu hari kalian tersenyum mesra, saling merenda cinta dalam ikatan pernikahan. 

Dari yang sangat mencintai Tezar,
Alya.

13 Oktober 2016

[SBT OWOP] Terhempas dari Cinta

Halooooow~

Udah lama gak ngeblog. Maaf, ya blog. Aku sibuk sih wkwkwk. Gak juga ding. Males sih intinya hihihi. Oke. Sekian lama gak isi blog, dateng2 aku bikin SBT OWOP dengan genre romance-angst. Well yeah... sedikit menakutkan karena ada iris-mengiris lengan wkwk. Tapi seru kok. So, cekidot ya! 

bagian 1 Nifa: Luka Elisa
bagian 2 Asti: Self Harm
bagian 3 Ara:  Friendzone
bagian 4 Nana: Dua Sisi Koin
bagian 5 Zu: Teman Baru
bagian 6 Ruru:  Permulaan
bagian 7 Nadita: Diluar Dugaan
bagian 8 Depi:  Luka

***
Terhempas dari Cinta

"Elisa, gimana keadaan lo?" tanya Alya sambil meletakkan buah-buahan di meja samping tempat tidur Elisa.

Elisa berusaha untuk bangkit meski dipaksakan. 

"Eh, kalo sakit gak perlu bangun." Alya menopang tangan kanan Elisa, membantu Elisa duduk. 

"Gue ... maaf ya. Gue ... gak tahu harus bilang apa." Bahu Elisa terguncang hebat, tangisannya keras. Sayang, Elisa tidak menyadari betapa dingin tatapan gadis yang ada di hadapannya.

Alya menarik napas pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sesungging senyum dipaksakan Alya untuk melengkung indah. Dipeluknya bahu Elisa. "Kita sahabat 'kan?" 

***

Alya menutup pintu kamar rawat Elisa dengan dada yang bergemuruh rusuh. Ada rasa tak suka yang ditahan kuat-kuat. Ada keinginan membunuh yang berusaha dilenyapkannya. 

"Alya?"

Alya terkesiap. "Oh, hai, Zar."

Tanpa memandang Tezar, Alya ingin buru-buru pergi. Takut rasa iri serta dengki itu tak mampu disembunyikan Alya lebih lama dan terlihat jelas di wajahnya. Alya khawatir Tezar semakin jauh darinya.

"Eh, Al ... tunggu. Tangan lo kenapa?" Tezar terkejut melihat perban yang terbebat rapi di tangan kiri Alya.

"A ... anu ... " Alya tergeragap. "Semalem gue cuci piring terus pecah dan gak sengaja kena..." Tentu saja semua itu dusta yang Alya karang. Jawaban yang sama dilontarkan Alya ketika ditanya Elisa tadi.

"Masa, sih?" Tezar menautkan alis, tak percaya dengan ucapan Alya. Bagaimana pun, Tezar dan Alya saling kenal sejak kecil. Kebohongan Alya mampu Tezar tangkap meski hanya sepercik. 

"Iya. Lo mau ketemu Elisa 'kan? Dia udah nunggu kayaknya. Gue pergi dulu, ya." Alya berjalan memunggungi Tezar yang masih dilanda kebingungan dan banyak pertanyaan.

"Eh, Zar ... " Alya membalikkan badannya tiba-tiba. "Jangan lupa makan."

Tezar mengangguk, lesung pipi sebelah kanannya terlihat jelas.

Gue gak rela senyum itu juga untuk Elisa, Zar. Alya membatin dengan hati terkoyak. 

Sepanjang jalan, Alya terkenang masa kecilnya bersama Tezar; saat Alya diajari naik sepeda oleh Tezar, saat mereka dikejar anjing galak, saat lutut Alya terluka dan diobati Tezar, saat Alya memeluk Tezar yang kesepian di suatu senja.

Semua itu berkelindan dan berubah menjadi pisau belati yang menusuk hati Alya. Merajam  cinta Alya hingga mati dan berubah menjadi kepingan. Alya ingin berteriak kuat, menumpahkan katarsis yang menyesakkan jiwa. Mengapa cinta? Kenapa Elisa? Bagaimana bisa rindu dan cemburu melebur, lalu memenuhi rongga dadanya? 

Petang ini, air mata yang membanjiri pipi Alya menjadi saksi. Bahwa jarak antara cinta dan benci sangatlah tipis. Tidak! Alya tidak pernah benci Tezar... Alya hanya kecewa pada hatinya yang jatuh kepada laki-laki yang dikenalnya sejak kecil. Lalu Elisa? Sesungguhnya, meski hanya sedikit ... rasa kasihan pada gadis itu nyata. Tapi cemburu dan benci adalah bahan bakar untuk api yang berkobar dan sanggup membumihanguskan nurani dalam sekejap; Elisa harus lenyap selamanya.

***

Alya menatap langit kamarnya dengan pandangan kosong. Tezar dan Elisa lagi apa, ya? Pasti ketawa bahagia. Terus gue? 

Alya mengalihkan perhatian pada perban yang melilit lengannya. Dibukanya perlahan. Dilihatnya bekas luka yang masih basah. Tangan kanan Alya meraih gadget dari kantong rok abu-abunya. Sampailah ia pada laman sebuah forum: Young Blood. Lalu dengan cekatan, Alya mengetik pada sebuah thread. Tepat di atas kolom reply milik Elisa.

Ternyata patah hati lebih sakit dari punggung tangan yang sengaja gue bikin luka, ya, hahahaha...
Ehya Elisa, lo gak ada niat untuk pindah dunia ke surga misal? Gimana kalo kita mati sama-sama?
 
Tentu saja akunnya bukan bernama Alya. Azsa.

***

Elisa mengerutkan keningnya. Azsa? 

Tezar memerhatikan Elisa yang terpaku pada layar gadgetnya sambil mengupas kulit apel. "Baca apa, El? Serius banget?"

Elisa gugup mendengar pertanyaan Tezar. Elisa merasa tak enak dengan Tezar. Elisa tahu bagaimana perjuangan Tezar yang selama ini ada di sampingnya. Ya. Curahan perhatian dan semangat yang selalu Tezar berikan ... cinta itu masih berbentuk benih dan janin yang selalu berusaha Elisa gugurkan. Tezar terlalu baik untuknya dan berhak memiliki kekasih yang sempurna, begitu yang Elisa catat selalu. Lagi pula, trauma yang ditimbulkan dari pertengkaran mama dan papa Elisa begitu membekas. Cinta pria dan wanita terlalu semu dan samar bagi Elisa. 

Elisa tak ingin Tezar tahu bahwa ia bergabung dalam sebuah komunitas yang menggiringnya pada kematian. Mungkin saja... Azsa benar... 

Papa bilang, aku sebuah kesalahan? Elisa kembali tergugu. 

"El, lo kenapa? Kok nangis lagi?"

"Zar, papa bilang ... gue adalah kesalahan. Gue gak tahu maksudnya apa... " Alya berkisah sambil sesenggukan. 

Tangan Tezar berusaha menggapai Elisa. Tezar ingin memeluk gadis yang ada di hadapannya, namun urung ia lakukan. Tezar hanya mampu menepuk-nepuk bahu Elisa untuk ditenangkan. Seandainya semua penderitaan lo mampu gue pindahkan ke dalam diri gue, El. 

***

Tezar menyelimuti Elisa yang terlelap setelah menangis agak lama. Kemudian, ia meraih HP Elisa yang layarnya masih berkedap-kedip. 

Young Blood? Azsa?! Siapa dia? Forum sialan apa ini? Pekik Tezar yang tertahan di kerongkongan.

***

01 Juni 2016

Cake Cokelat dari Tepung Beras

Rame2 soal gluten, well, agak susah kalau kita bener2 mau free. Prinsip saya, selama gak berlebihan insyaa Alloh kesehatan terjaga. Apapun itu. Walau buat cake buat Mursyid, saya batasi konsumsinya. Saya jadwal makannya. Sisanya bisa dikasih anak tetangga :). Jadi pinter2 kita aja supaya anak kita gak terlalu ketagihan banget sama cake, hehe.

Kali ini aku mau coba buat brownies dari tepung beras. Cuma kok setelah jadi, rasanya gak mirip brownies, wkwkwk. Ya udahlah, yang penting halal dan enak mehihihi :D.

25 Mei 2016

Sahabat Lama yang Kembali

Notebook lama rasa baru. Ini notebook dari zaman masih kuliah di UNSOED. Lulus trus nikah, trus kuliah lagi, trus hamil, trus punya anak, trus hamil lagi #eh aamiin.

13 Mei 2016

[Resep] Perkedel Tahu Ayam Ala Ummu Mursyid

Bosan dengan lauk itu-itu aja? Mungkin Perkedel tahu-ayam ala aku bisa jadi alternatif, hehe. Gampang dan gak ribet.

11 Mei 2016

[Resep] Kue Pelangi Kukus Simpel dan Gak Ribet

Berhubung beberapa waktu lalu booming sama 'gerakan' pelangi yang isinya LGBT. Eke jadi sebel deh ah. Pelangi yang bagus gitu malah dijadikan lambang sama mereka. Ah udahlah! Gak penting juga ngomongin mereka. Mending eksekusi resep "Kue Kukus Pelangi" ala Ummu Mursyid yang simpel dan cepet.

[Resep] Nugget Tahu Simpel Ala Ummu Mursyid

Huwaah!
Lama gak nengok kamu, Blog. Maafkan... aku selain sibuk dengan rumah dan bikin kue *halah, sibuk bantu Abu Mursyid nulis non-fiksi #eaaaa
Kali ini mau sok-sokan kasih resep nugget tahu ala Umminya Mursyid.

01 Mei 2016

[Resep] Brownies Kukus No Mixer, Simpel dan Cepet :D


Halo~
Beberapa waktu lalu, saya nyobain resep bikin donat tanpa kentang, tanpa mentega, tanpa susu (duh, boros kata ‘tanpa’). Berhasil sih. Cuma rasanya belum nampol, hahaha. Ya iyalah … tapi it’s okelah. Tinggalkan dulu donat tanpa-tanpa itu. Saya beralih ke resep brownies serba 2-4 sendok makan, mehihihihi. Langsung aja deh. Cekidot~