Ada yang mulai memburam walau hatiku tak kunjung jua terpejam.
Sepasang netraku masih jelas memindai jalanan yang baru saja tersapu
titik-titik air dari langit-Nya. Jejak kaki kita memang samar. Namun kenangan
masih berkelebat jelas.
Hatiku melihat pahatan namamu di dinding pembuluh darah
arteriku. Ah, kau tentu lebih paham dari aku. Kalau pembuluh darah arteri itu
yang membawa aliran darah dari jantung lalu diedarkan ke seluruh tubuh. Bukan
tak mungkin ada korelasi yang menyebabkan aku begitu sulit melupakanmu.
Aku dan kau tak lagi bisa bersisian saat memandang lanskap
senja. Pun tak mungkin beriringan sambil membuat banyak catatan kecil yang kita
sebut mimpi masa depan.