Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan

21 Februari 2016

Titian Perpisahan

Ada yang mulai memburam walau hatiku tak kunjung jua terpejam. Sepasang netraku masih jelas memindai jalanan yang baru saja tersapu titik-titik air dari langit-Nya. Jejak kaki kita memang samar. Namun kenangan masih berkelebat jelas.
Hatiku melihat pahatan namamu di dinding pembuluh darah arteriku. Ah, kau tentu lebih paham dari aku. Kalau pembuluh darah arteri itu yang membawa aliran darah dari jantung lalu diedarkan ke seluruh tubuh. Bukan tak mungkin ada korelasi yang menyebabkan aku begitu sulit melupakanmu.
Aku dan kau tak lagi bisa bersisian saat memandang lanskap senja. Pun tak mungkin beriringan sambil membuat banyak catatan kecil yang kita sebut mimpi masa depan.

Kotak Surat (bagian 1)



“Ran, pernah dengar mitos tentang kotak surat di atas bukit belakang sekolah?” tanya Ken ditemani matahari yang sedang bersiap kembali ke peraduan.
Ran sedang asyik menekuni novel. Ia menautkan alis tanpa berpaling dari novel yang berwarna dasar biru. “Mitos apa?”
“Iya. Katanya, kalau kita menulis surat disamping kotak surat itu … tanpa sadar, jari-jari kita akan merangkai kata cinta untuk orang yang kita suka, ” jelas Ken sambil menatap camar yang mengangkasa. Ada semburat merah di pipi yang mati-matian ia sembunyikan.
“Kau pernah?”
“Umm, kau coba saja sendiri. Sudah ya. Aku pergi dulu. Kau jaga diri baik-baik.” Ken berlalu dengan debaran di dadanya. Ada kalimat yang tertahan di kerongkongan. Sebuah perpisahan. Esok Ran takkan lagi bisa menemukannya di sekolah atau di halaman rumahnya. Ken akan terbang dengan burung besi ke Belanda. Mengikuti ayahnya yang pindah tugas ke sana.
Ran menatap sendu punggung Ken. Sepasang matanya berucap dalam diam. Mulutnya terkatup rapat. Satu yang bersuara : hatinya. Ran sudah mendengar dari teman lainnya bahwa Ken akan pindah sekolah, rumah juga negara. Namun selamat jalan, terlalu sembilu untuk dikatakan.
Mungkin benar. Mereka takkan tahu tentang cinta sampai hadir rindu yang menyiksa.
***

Kotak Surat (bagian 2)



“Aku kembali, Ken …” bisik Ran pelan di tepi jendela pesawat saat mendarat. Ran pulang ke negara asalnya. Setelah sepuluh tahun yang lalu ia putuskan untuk menaruh suratnya di kotak surat cinta yang pernah Ken-sahabatnya sejak kecil- ceritakan.
***
Petrichor menyeruak. Masuk ke saluran pernapasan milik Ran. Air berdenting, berjatuhan seolah berima di atas genting rumahnya. Ran berdiri mematung bersisian dengan jendela kamar yang sengaja ia buka. Ia biarkan tempias membasahi wajahnya. Hatinya ikut kuyu. Tersapu air bernama rindu.
“Bukankah sekarang musim gugur?” tanyanya dalam hening. Ia masih bergeming. Tatapannya lekat pada rumah seberang. Rumah Ken yang tak berpenghuni.
***

20 Februari 2016

[story blog tour] Kunci yang Diputar Tengah Malam



Ini adalah Challenge menulis OWOP (One Week One Paper), temanya STORY BLOG TOUR. Di mana member lain yang sudah diberi urutan absen melanjutkan sesuai imajinasinya di blog pribadinya.

Aku Kiki alias sunflower alias emud alias Rizki Khotimah (abaikan,ahaha), mendapatkan giliran untuk membuat episode keempat dalam serial story blog tour ini.

Episode 1 :  Senandung Malam - Nadhira Arini
Episode 2 : Rumah tua - Rizka Zu Agustina
Episode 3 : Misteri Sebuah Kunci dan Sesosok Bayangan- Cicilia Putri Ardila

 
Dan inilah episode keempat. Cekidot~

19 Februari 2016

[stroy blog tour] : Sebuah Salam dan Bayang Masa Lalu

Ini adalah Challenge menulis OWOP (One Week One Paper), temanya STORY BLOG TOUR. Di mana member lain yang sudah diberi urutan absen melanjutkan sesuai imajinasinya di blog pribadinya. Aku, Kiki alias Rizki Khotimah alias Emud alias sunflower (plis abaikan, wahaha), mendapatkan giliran untuk membuat episode ketiga dalam serial story blog tour ini.

Episode 1: Devi Asri Antika - Lelaki yang Tertelan Waktu
Episode 2 : Lisma Nopiyanti - Sepenggal Harap

Bismillah. Ini episode ketiganya. Yuk, dinikmati ceritanya. Walau banyak kekurangannya … mariii~