Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

25 Januari 2017

Ganti Nama Buat Ngeksis (?)

Yuhuuu....

Setelah berbulan-bulan lamanya gak nulis di blog, hoho. Bukan. Tentu aja ganti alamat blog bukan buat ngeksis. Tapi lebih megarah pada kepraktisan penyebutan. Iya, secara kiki-diarysunflower itu lumayan ribet gimana gitu. Kalau penyukabungamatahari juga ribet sih tapi ya mendinglah haha *ngeles.

Pingin nulis di blog lagi karena yaa, semoga ada yang baca (pede buedh gue haha). Dan pada tulisan yang saya buat, ada semacam hikmah meski berserakan yang bisa diambil *tsaaah. 

Gak mau kebanyakan janji. Tapi ya semoga aja bisa istiqomah. 

Dan, berharap kelak, umur suami dan Mursyid lebih panjang dari saya, dan berkah tentunya, sehingga bisa membaca tulisan umminya yang kadang gak jelas ini (seringnya jelas kok haha). Bismillah~

19 April 2016

Fiksimini dan Sebuah SMS :D

Wohoo! Alhamdulillah. Malam ini Alloh kasih rizki beruntun. Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah.

Jum'at atau hari apa ya? Lupa. Ada kuis di FP Mbak Afifah Afra. Buat fiksimini yang mengandung frasa #PenculikanSangProfesor. Saya gugling dulu syarat fiksimini yang baik itu gimana. Ternyata 140 karakter karena fiksimini berawal dari media sosial twitter (sama kayak jawaban dari Ruru, makasih Ru :*). Bingung pala berbie juga sih, hanya dalam 140 karakter bikin suatu cerita yang unik dan bermakna. Hm, keingetan MSBT OWOP yang aku buat "Tragedi Mawar Putih", jreng jreng jreng ... tiba-tiba dapet ide. Dan jadilah : 

17 April 2016

[Resensi] Jilbab Traveller Love Sparks in Korea

Membaca "Love Sparks in Korea" buah karya Asma Nadia, seperti  menyaksikan sebuah drama korea bergenre romance. Membuat hati kebat-kebit, kadang senyum sendiri. Tapi tak hanya tentang cinta, dalam novel ini saya menemukan semangat heroik dari seorang Rania Samudra. Seorang gadis yang tadinya 'bukan siapa-siapa' namun berhasil menggapai cita. Menjadi seorang penulis, juga jilbab traveller yang menelusuri kekuasaan Alloh dari satu negara ke negara lain. Lalu pada Negeri Gingseng, hati Rania lambat-laun tertambat pada Hyun Geun. Lalu bagaimana dengan seorang pria bernama Ilhan yang juga menaruh hati pada Rania? Novel ini menyajikan peristiwa hati yang terbalut keikhlasan. Ada bumbu rindu juga cemburu sebagai penyedap.

Adalah Hyun Geun, seorang pemuda korea yang cukup dingin dalam memandang hidup. Bagi Hyun Geun, hidup yang ia tangkap dari lensa kameranya hanya sebatas pada warna hitam atau putih. Hitam yang seolah mewakili perasaannya kepada suami Chin Sun --Chin Sun merupakan cinta pertamanya. Putih yang berasal dari rasa sayang, cinta, kagum juga kesetiaan yang Hyun Geun rasakan pada Chin Sun. Lalu takdir membawa Hyun Geun menemukan warna pelangi lewat Rania. Cintakah? 

Novel ini cukup sukses membawa imajinasi saya terbang ke korea. Seperti pada halaman 331, Hyun Geun memberikan penjelasan kepada Rania tentang kuil tertua di Busan :

"Saya berharap kamu mengenakan sepatu yang nyaman, karena paling tidak ada 100 anak tangga yang harus kamu lalui untuk sampai ke kuil. Jangan lewatkan detail kuil ini. Kamu akan mengerti betapa Beomeosa merupakan salah satu kuil paling mewah dan arsitektur peninggalan Dinasti Joseon-nya yang tergarap sangat halus dan baik... "

Kelak ketika ada rizki dan kesempatan ke sana, saya akan mengenakan sepatu yang nyaman seperti yang Bunda Asma Nadia pesan lewat tokoh Hyun Geun.

Oh. Namun saya cukup terkejut dan mengerutkan kening manakala sampai pada pengakuan Hyun Geun yang sudah mualaf sejak sebelum bertemu Rania. Well, saya bukannya tak suka. Memang yang namanya hidayah tak ada yang mampu mencegah. Hanya saja, saya merasa akan lebih mencerahkan jika Bunda Asma Nadia menyelipkan sedikit perjalanan Hyun Geun menjadi seorang muslim saat tokoh ini diceritakan pernah tiga tahun kuliah di Indonesia. Atau memang sudah ada kisah Hyun Geun pada novelnya yang lain?
Bagaimana pun, novel ini manis dan sayang jika terlewatkan. Memberi pelajaran tentang cinta, membawa kita seolah terbang ke negara lain, juga mengajarkan untuk tak menyerah pada mimpi.

Judul : Jilbab Traveller Love Sparks in Korea
Penulis : Asma Nadia
Penerbit : Asma Nadia Publishing House
Tahun Terbit : 2015
Tebal Buku : vii+380 hlm.; 20.5 cm x 14 cm
ISBN : 978-602-9055-39-9

13 April 2016

[Resep] Pempek Sutra Gak Pake Ribet



Hai~
Saya mau sok-sokan kasih resep lagi nih. Resep masakan dong. Bukan obat~
*apa sih, Ki*

“Pempek Sutra” gak pakai ribet. Simpel dan cepet banget. Saya dapet resep ini dari grup masak di FB yang saya ikuti. Sambil nunggu adonan mateng dikukus, saya sambil nonton drakor “Nightmare Teacher”. Hayati galau-galau takut, Bang~. Bukan drama horror sih. Tapi ya tetep aja … nonton malem-malem, Bo. Bapaknya Mursyid masih di luar rumah. Mursyid udah bobok sholeh. Halah malah bahas drama. Cekidot resepnya ya~

10 April 2016

Moooooddddd!

Moooooddddd! Ke mana lagi harus kucari engkau? Ke dalam hutan belantara atau di luasanya samudera?

25 Maret 2016

[Resep] Banana Cake


           Kali ini mau sok-sokan bikin resep kue ala-ala akoh, wahahahaha. Selama ini jarang eksekusi buat cake atau semacamnya karena Mursyid alergi susu sapi beserta turunannya, heu. Nah, kemarin iseng selancar di facebook, ketemu resep banana cake punya Siti Eko Lestari yang kelihatannya sih gak pake ribet. Bahan juga gak pake mentega, susu atau keju. Bisa dioven atau dikukus. Hmm, yuk lah coba buat. Menurut aku sih, resep banana cake ini cocok buat amatiran kayak aku yang gak jago buat kue.  Oiya, makasih loh buat Bapaknya Mursyid yang udah ngebantuin XD
            Cekidot~

22 Maret 2016

[Liburan Part 1] Pantai Kura-Kura dan Masjid Kesultanan Mempawah



Pekan kemarin, Embahnya Mursyid datang dari Jakarta. Nengok cucu kesayangannya. Anak sama mantunya mah bodo amat #eh, hehe. Diputuskanlah untuk jalan-jalan hari sabtunya. Secara, Abu Mursyid kan baru libur hari sabtu-ahad. Tadinya mau jalan-jalan ke Singkawang. Tapi, Om Qodar yang diminta tolong Abu Mursyid buat gantian nyetir belum hafal jalan ke sana. Abu Mursyid juga sama. Lah apalagi akoh yang baru 7 bulan di Pontianak! *gak ada yang nanya elu, ki*
Akhirnya kami memutuskan pergi ke pantai kura-kura yang masuk wilayah kabupaten Bengkayang. Perjalanan ditempuh sekitar 3 jam dari Pontianak pakai mobil pribadi. Plis jangan bandingkan sama pantai Drini atau Indrayanti yang ada di Gunung Kidul Jogja sana ya! Bagus sih. Tapi buat aku, masih bagus Drini atau Indrayanti. Lumayan putih kok pasirnya. Tapi air lautnya gak bening. Mungkin karena gak ada karang kali ya di tepian pantainya *sok tau lu, ki* hahaha.
Cuma kalau kata orang yang udah lama tinggal di Pontianak, pantai kura-kura itu belum sering terjamah sama wisatawan lokal atau asing. Iya sih. Terbukti pas kita ke sana, pantainya sepi, Bo! Padahal weekend , loh. Dari sekian warung di sekitar pantai, hanya sekitar dua atau tiga gitu yang eksis. Itu pun gak lengkap. Gak ada yang jual P*P M*E misal :D. Tapi aku ngerekomendasiin pantai ini buat dikunjugi kalau kalian lagi main-main ke Kalbar. Cukup mengeluarkan 10ribu buat 1 orang dewasa. Mursyid belum kena hitung. Entah kalau anak di atas umur 2 tahun, hehe. Yang tarikin biaya masuknya juga kayaknya loh ya, dari warga yang tinggal di daerah situ. Gak tahu juga resmi dari Dinas Pariwisata setempat atau bukan…
Well, gak nyesel sih jalan ke sana. Pantai lumayan oke. Pas buat me-refresh kepenatan karena hampir seminggu berkutat dengan rumah, hoho. Selain itu, aku dapet ide buat bikin cerpen bergenre romance yang judulnya “Rak-Rak Rasa Milik Elang”. Aku ngepost cerpennya di forum punya OWOP, hehe. Aku juga bebas jepret sana-sini walau hasilnya gak oke, wahaha. Tapi lumayanlah buat amatiran kayak akoh yang suka poto anak sendiri :p. Loh, Mursyid sama siapa? Ada sama Embahnya di Pondokan :)))

12 Maret 2016

Pertanyaan Basa-Basi

Saya ini agak males kalau ketemu sama ibu-ibu yang hobinya membandingkan anaknya dengan anak orang lain. Entah anaknya yang dia sanjung atau sebaliknya.

Contoh gini :
"Jeng, kok udah mau setahun anaknya belom bisa jalan sih? Ibunya males ngelatih jalan ya? Kalau anak saya mah, cepet banget jalannya. Setahun kurang loh udah bisa jalan. Anaknya jeng termasuk yang lama ya berarti."

07 Maret 2016

Ghostwriter (?)

"Neng, mau bantu mas nulis artikel gak, tentang potensi dan hambatan bertanam bawang merah di lahan gambut."

Saya yang sedang asyik mainan gadget sempat kaget dengan permintaan mas. Saat itu Mursyid sudah bobok sholeh dengan lelap, ehehe.

"Mas mau nulis?"

"Iya,"

"Ya udah, nulis aja..."

"Tapi butuh bantuan neng. Soalnya mas lagi sok sibuk nih."

Awalnya saya ragu untuk membantu. Selain saya gak paham banget dengan dunia pertanian, menulis artikel yang termasuk kategori non-fiksi jelas bukan keahlian saya.

Tapi yowislah. Saya terima tawaran suami saya. Saya baca banyak jurnal pertanian, laporan penelitian juga beberapa artikel ilmiah tentang bawang dan lahan gambut yang suami kirim via surel. Lalu saya tulis artikelnya berdasarkan kerangka yang suami saya buat.

Dan kemarin, ulala! Kata suami, artikelnya terbit di majalah pertanian. Masyaa Alloh. Gak nyangka euy!

Eh, yang saya lakukan itu termasuk ghostwriter bukan? Hihihi. Dibayarnya pakai cinta dong, eaaaaaa.

Dan semalam, suami minta saya menulis lagi. Kali ini sih bukan artikel. Tapi semacam opini tentang kesejahteraan petani. Suami udah kasih referensi terkait tema. Selain itu, suami juga udah buat sedikit opininya dalam bentuk tulisan. Tapi belum nemu mood buat nulis ituuuuu, heu.

Tapi diusahakan deh. Setelah menyelesaikan fanfic CCS.
*ngelirik Zu
*terus kasih senyum manis
:p

Hikmahnya adalah, kadang emang harus keluar atau memperluas definisi kita tentang zona yang selama ini kita anggap nyaman. Tulisan fiksi emang favorit saya. Di hamparan fiksi, saya merasa pena takkan kehabisan tinta. Tapi bukan berarti, saya gak mau mencoba non-fiksi. Mungkin berlaku juga buat sisi kehidupan kita yang lainnya... mungkin.

28 Februari 2016

Tips Toilet Training


gambar dari sini
Mau berbagi tips toilet training (TT) ala emaknya Mursyid. Postingan saya ini menindak lanjuti dari tulisan yang judulnya "Keranjang Baju Mursyid". Dari awal Mursyid lahir, saya membiasakan untuk jarang pakai yang namanya pampers atau clodi. Saya pribadi sih, gak membedakan pampers atau clodi. Buat saya, keduanya punya kelebihan dan kekurangan. Tapi manfaatnya sama, yaitu supaya para emak gak sebentar-bentar ganti pokok, hehe.
Mursyid awal lahir sampai sekitar usia 5 bulan, pampers atau clodi dipakai saat malam hari dan saat pergi. Oh, kalau lagi musim hujan dan bikin stok popok menipis, juga masuk ke syarat pakai clodi atau pampers, haha. Kesehariannya ya begitu. Saya dan orang yang di rumah bolak-balik ngepel. Di usia 5  sampai 7,5 bulan, terkadang saat malam hari, tidak saya pakaian pampers atau clodi.
Ngompol? Jelas. Solusinya? Jemur kasur dong. Hahaha.
Saat itu, Mursyid usia 7,5 bulan dan saya sudah ikut suami ke Pontianak. Maka fix, tiap malam gak saya pakaikan pampers atau clodi. Siang hari pun begitu. Kecuali saat pergi ya.
Alhamdulillah, di usianya yang ke-9 bulan, dia mulai ada semacam kode -Mursyid belum bisa bicara- kalau mau pipis atau pup. Sampai sekarang usianya 13 bulan, kalau malam sudah jarang ngompol. Paling kalau cuaca dingin pake banget. Tapi kalau bangun tidur dan di toilet, buanyaaak deh tuh pipisnya : ))
Siang harinya, dia pipis sambil berdiri dan di lantai. Gak mau di kasur atau karpet. Kalau lagi asyik mainan di kasur misal, dia uju-ujug ke lantai sendiri. Terus pipis sambil berdiri :D. Tahap pipis sambil jongkok belum saya ajarkan ya. Karena emang dia baru bisa jalan. Juga kalau mau pup, dia kasih kodenya sambil berdiri terus ngeden gitu, haha.
Nah. Baru-baru ini, baru mau saya ajarkan mengkomunikasikan kalau dia mau pup atau pipis. Mursyid kosakatanya emang masih minim sih. "Bah, Mah, Babah, Papua, Pah". Belom ada ummi doong T_T. Tapi namanya juga pelajaran. Dikit-dikit. Mursyid pun sudah paham kok apa yang kita bicarakan.
Misal saya cari barang, "Sisir mana ya?"
Dengan sigap, Mursyid celingukan dan tadaaaa! Dia ambil sisir :D
Jadi tipsnya apa nih? Cekidot~

MJN dan Air Zam-Zam untuk Mursyid


           “Hatchiiiii…,”
Saya dari dapur langsung nengok ke arah suara dong. Subhanallah… anak lanang mau pilek! Heu…
“Demam gak, Bah?” tanya saya ke Abu Mursyid.
“Gak. Cuma anget,” jawab Abu Mursyid.
Baiklah. Akhirnya saya lihat perkembangan Mursyid. Kalau menjelang ashar Murysid demam, saya harus ikhlas gak ikut majelis jejak nabi yang diisi Ustadz Salim A Fillah. Tapi kalau cuma anget dan Mursyid masih ceria, oke. Bismillaah.
Dengan izin Alloh, Mursyid bisa diajak ngaji! Yeay… Mari kita belajar, Nak. Kita kenali siapa sosok Rasulullah saw. Sebelumnya mampir beli jeruk dulu buat ngemil Mursyid. Alhamdulillah, kajiannya agak ngaret, jadi gak ketinggalan materi. Setelah Mursyid menghabiskan satu jeruk, Ustadz Salim dateng.
Alhamdulillah… Abu Mursyid membiarkan saya mendengarkan khusyuk :D. Mursyid dipegang sama Abunya.
Saat Ustadz Salim bekisah tentang adanya perbedaan pendapat tentang usia Khadijah ra (antara 40 tahun atau 28 tahun). Tiba-tiba saja, “Ini, Mbak. Ambil.”
Eh?
“Untuk saya, Nek?”
Ibu yang saya panggil Nenek tersenyum. “Iya, untuk Mbak. Silakan. Saya bawa dua.”
Saya teliti botol kecil kemasan yang tertulis “Air Zam-Zam”. Dalam hati saya bertahmid berkali-kali. Yaa Alloh… rizkinya Mursyid yang sedang tak enak badan.
Hati-hati saya bicara ke Nenek, “Maaf, Nek… air zam-zamnya boleh untuk anak saya?”
“Boleh sekali, Mbak.”
Lalu saya hampiri Mursyid dan Abunya. Saya bawa Murysid duduk di samping saya untuk mengucapkan terima kasih kepada Nenek.
“Ini anak saya, Nek. Nah, ini air zam-zam dari Makkah untuk Mursyid dari Nenek. Ayo bilang, Jazaakillahu khior, Nek. Semoga Alloh membalas kebaikan nenek dengan kebaikan pula. Aamiin.”
“Aamiin yaa Alloh…” Sang Nenek mengelus kepala Mursyid.
Setelah itu kami berbicang sedikit tentang tempat tinggal, tahu dari mana adanya majelis jejak nabi, dan lainnya.
Menjelang maghrib kajian usai. Mursyid dibawa Abunya sebentar ke depan. Saya tengok sekilas, mereka mendatangi Ustazd Salim. Selesai sholat maghrib, Abu Mursyid cerita apa yang tadi dia bincangkan dengan Ustadz Salim.
“Tadi Mursyid didoakan sama Ustadz Salim.”
“Terus?”
“Abah cerita kalau pas hamil Mursyid dulu, ummi sama abah sering dateng ke MJN di masjid Jogokariyan.”
“Kata ustadz apa?”
“Iya kah? Mursyid seumuran dengan anak saya yang paling kecil.”
Hehehe…
Mursyid dan Ustazd Salim. Btw, itu mukanya lesu banget :D

Baarkallah, Nak. Semoga engkau menjadi seseorang yang selalu menuntut ilmu dan mengamalkannya. Syafakallah syifaan ajilan, anak sholehnya ummi dan abah. J

26 Februari 2016

Keranjang Baju Mursyid


Saya punya satu keranjang khusus di kamar bermain Mursyid. Isinya baju, celana, celana dalam, kaus dalam dkk milik Mursyid. Umm, semenjak usia Mursyid 7,5 bulan, saya putuskan untuk gak pakai clodi atau pampers baik di rumah atau saat malam hari. Saya sih, gak paham teori tentang toilet training (TT) seperti apa. Yang jelas, saya keingetan mamah saya saat saya kecil yang jarang memakaikan saya clodi atau pampers. Paling dipakai saat sedang pergi ke luar rumah saja. Nah, saya coba terapkan ke Mursyid.  Eh sudah-sudah. Bahasan tetntang TT ala saya, akan saya bahas di tulisan lain insyaa Alloh.
Back to keranjang itu ya, yang fungsinya ya itu. Supaya kalau Murysid ngompol, gak perlu ribet buka-tutup lemari. Tinggal ambil di keranjang, hehe. Mursyid pun punya hobi baru kalau lagi bosan dengan mainan-mainanya : ngacak-acak isi keranjang itu. Bahagiaaaa banget rasanya kalau dia berhasil bikin semrawut, wuahahaha. Kadang saya nggerutu juga sih sambil mbatin. “Baruuuu aja diberesin…”
aksi Mursyid :D
 Ah, tapi ya namanya anak umur 1 tahun! Haha. Akhirnya apa? Saya ikut aksi Mursyid.
Yuhuuuu… terkadang kita butuh tinggalkan sejenak kerapian kamar atau rumah kita. Lalu asyik ikut masuk ke dalam dunia anak, maka ada nyaman yang hadir ke hati *tsaaaah.  Tapi tetep ya. Nanti kalau Mursyid lupa sama keranjang atau pas dia bobok seringnya sih gue ikutan pules juga, wahahaha, baru deh saya beresin.