Tampilkan postingan dengan label nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nyata. Tampilkan semua postingan

27 Mei 2017

Tentang Keluarga bagi Saya

Menurut kbbi online, ke·lu·ar·ga n 1 ibu dan bapak beserta anak-anaknya; seisi rumah; 2 orang seisi rumah yang menjadi tanggungan; 3 (kaum -- ) sanak saudara; kaum kerabat; 4 satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat.

Well, keluarga... hm, sudah hampir lima tahun berstatus sebagi istri. Dan dua tahun menjadi seorang ibu. Saya sangat sangat bersyukur untuk dua status yang saya punya itu. Beberapa waktu lalu saya sempat baper seharian penuh. Khadimat di keluarga mama, gak percaya kalau saya lulusan S1 farmasi plus sudah pernah disumpah apoteker. Dengan seenak njeplaknya, dia bilang gini. "Sayang duitnya, Mba... masa gak kerja sih?"

Hah. Dengan menahan emosi sambil istighfar, saya menjelaskan dengan menekan nada suara saya agar intonasinya tidak naik hehe, kalau prioritas saya untuk sekarang adalah keluarga kecil saya. Dan ilmu yang udah saya pelajari, insya Allah gak sia-sia. Akan ada masanya insya Allah. Semua itu sudah saya selipkan pada doa-doa saya.

Sebenarnya saya gak perlu merasa baper atau tersinggung, sih. Tapi saya juga emak biasa, yang kadang kalau lihat apotek atau mencium aroma rumah sakit (wkwk), rasa kangen praktik itu muncul. Tapi... lagi-lagi tapi... ketika Mursyid saya iseng tanyakan, "Nak, kalau ummi kerja gimana?"

Spontan anak itu menjawab dengan mimik wajah kesal campur sedih. "Ndak boleh! Ummi sama ucit aja. Biar abah ucit Syahri yang kerja!"

Itu... gak ada yang ngajarin ngomong begitu padahal... antara heran dan seneng. Berarti Mursyid memerlukan saya ada di samping dia. Dan ya, saya juga gak tega kalau jauh dari anak itu. Wong bangun tidur yang dicari ummi, mau makan ummi, mau main sama ummi... yah kaaan. Baper deh saya :').

Kalau menurut kbbi, definisi keluarga ya seperti di atas. Namun menurut versi saya, keluarga bukan hanya sekadar status ayah-ibu-anak saja. Tapi, keluarga itu semacam perkumpulan manusia, yang mana cinta bertumbuh dan menuntun kita ke jalan yang Allah ridhai. Di sana ada rasa ingin selalu mengingatkan pada kebenaran, dengan tak memadamkan rasa hangat yang sumbernya adalah sayang. Makanya, terkadang saya menemukan rasa hangat selayaknya keluarga, padahal tak ada ikatan darah. Ah, kedekatan tadi disebabkan oleh iman. Contohnya saat kita berkumpul dalam suatu majelis ilmu untuk semakin mengenal-Nya. Di sana, ada ruh-ruh yang diakrabkan oleh iman. Ada cinta yang berpendar, senyum-sapa tulus, hati yang terpaut karena Dia.

Lain lagi, ada banyak anak manusia yang tidak mengenal bagaimana wajah ibu yang melahirkannya. Tidak tahu seperti apa bau badan sang ayah yang dulu menggendongnya saat tangis si anak pecah untuk pertama kali ke dunia. Keluarga? Jika merujuk pada kbbi tentu saja masih. Tapi... akhirnya, si anak menemukan makna keluarga pada 'tempat' lain yang ia definisikan sendiri sebagai keluarga, meski statusnya hanya orang tua angkat.

Jadi mau di manapun saya, ketika saya menemukan orang-orang yang menerima saya apa adanya, saling menghargai serta menghormati. Ada rasa tolong menolong. Ada cinta serta sayang meski tak diungkap dengan lisan, saling menasihati dalam kebaikan, saya akan menganggap mereka selayaknya saudara. Sebab, ruh-ruh yang diakrabkan oleh iman, kelak akan dipertemukan lagi oleh Allah di jannah-Nya. Aamiin, insya Allah.

06 April 2017

Menyapih Ala Drama Korea #eh

Segala macam teori dilahap sejak Mursyid usia 16 bulan. Hah. Emang umminya aja sih, yang gak telaten alias gak istiqomah buat sounding. Dibilang males gak juga. Tepatnya adalah saya yang gak rela kehilangan momen-momen indah saat menyusui huhuhu.

Adakalanya diingatkan pak suami kalau Mursyid sudah besar. Di situ saya merasa baper dan laper.

Inget banget waktu pertama kali denger tangisan dia pecah di dunia #kacakali. ASI yang keluar dikit banget. Yang tiap hari makan katuk tapi kok gak ngaruh. Suplemen A-Z dilahap cuma ya ampun, sampai nangis bombay lihat hasil pumping hanya berapa ml. Tapi saya gak nyerah untuk mengASIhi Mursyid.

Dan waktu memang bergulir dengan cepatnya bak kilatan cahaya ... #apabanget

Dua tahun itu mendekat. Maka bismillaah... saya kuatkan azzam yang jatuh bangun untuk menyapih Mursyid.

"Nak, Mursyid sudah besar ya. Nenennya ganti buah, kue atau susu mau?"

Begitu yang kerap saya ucapkan di siang hari. Dari sejak usia setahun sampai 18 bulan nenen di siang hari 5-6 kali, lama-lama berkurang seiiring waktu. Kalau malam, hanya sesekali dia bangun.

Tepat pada usia 24 bulan, di siang hari dia hanya nenen 2-3 kali. Malamnya sudah jarang bangun dan minta nenen.

Saya terus sounding dan sounding yang intinya, kalau sudah besar, Mursyid ndak perlu nenen lagi.

Gak apa ngaret alias gak tepat dua tahun. Dan yap, bulan februari Mursyid sudah disapih. Tapi entah, ini kebetulan atau gimana. Waktu itu saya gak enak badan dan minta tolong bekam pak suami. Selesai bekam, baluran bau minyak butbut semerbak di badan saya haha. Saat Mursyid minta nenen, saya sounding ndak boleh nen. Dan dia balas, "Nen mi au butbut. Ait." (baca: nenen ummi bau butbut. Pahit). Hah? Hahahaha. Baiklah...

Umminya malah yang sering galau dan kangen huhu. Mursyid sesekali minta, tapi dia sendiri yang geleng-geleng kepala saat saya sodorin wkwkwkwk.

Inti dari penyapihan, emaknya dulu yang kudu setrong. Minta sama Allah agar dimudahkan. Lalu sounding dan sounding.

Setelah penyapihan, Mursyid gak minum susu formula. Sebelumnya pernah tanya dengan DSA Mursyid. Kata beliau, gak perlu tambahan sufor asal menu makanannya seimbang. Sayur yang agak kendala. Mursyid gak terlalu suka sama daun-daunan. Tapi kalau macam wortel, kentang, tauge, dan sayur lain yang bukan daun, Mursyid masih doyan alhamdulillah. Paling saya bikin nugget sayur yang isinya bayam hehe. Tapi alhamdulillah juga, Mursyid suka banget kalau sayur berkuah. Jadi saya tetep masakin dia sayur bayam atau sop atau asam. Gak apa yang daun sering dia disingkirin di pinggir piring hihi. Umminya kudu istiqomah mengenalkan dia dengan sayur daun. Ah, ala doyan karena biasa ya, Nak... wkwk.

Segala puji bagi Allah. Azzam saya menyusui Mursyid sampai dua tahun (meski lebih hehe) Allah kabulkan. Saya gak minta sama Allah supaya ASI saya berlebihan atau kurang. Tapi dicukupkan. Semoga dengan adik-adiknya Mursyid juga cukup, aamiin aamiin aamiin yaa Rabb. Alhamdulillah juga, gak drama-drama korea banget sih pada proses penyapihan. Paling saya yang sesekali mewek sesenggukan lihat Mursyid waktu tidur karena kangen nenenin dia haha. Judul tulisan ini emang lebay dan berlebihan wkwk.

Semangat mengASIhi dan menyapih bagi yang sudah waktunya untuk disapih!

05 April 2017

Rumah Baru

Bukan. Bukan rumah baru saya. Ini rumah orang tua yang baru aja pindah. Sebelumnya rumah ortu di perumahan menteng metland. Untuk masalah keamanan mah, jangan ditanya. Tamu kudu wajib setor tanda pengenal kalau mau berkunjung.

Terus kenapa pindah? Jadi, yang satu deretan rumah dengan ortu itu, subhanallah banget. Terutama sebelah kiri rumah ortu. Gak mengeneralisir suatu agama atau suku lho, hanya mbok kalau mau pelihara anjing itu jangan sampai dzholim atau membuat gak nyaman ke orang lain. Baunya itu sampai ke rumah! Ortu sudah bolak-balik memberi peringatan, bahkan sudah ditegur Pak RT. Tapi ya emang orangnya ndableg kali, ya. Segala macam cara udah dilakukan sama ortu untuk kasih tahu. "Woy! Pelihara anjing boleh. Tapi dimandiin dan kotorannya diurusin biar baunya gak ke mana-mana."

Perkara ini bukan sebulan atau enam bulan. Tahunan! Dengan segala berat hati dan pertimbangan A-Z. Ortu memutuskan hijrah ke tempat yang lebih layak.

Dan taraaaa! Saya suka dengan lingkungan rumah baru ortu. Pertama, dekat pasar dan masjid. Cukup jalan kaki kurang dari lima menit buat sampai kedua tempat itu. Pasarnya itu gak nahaaan. Harga juga lumayan miring untk sandang, apalagi kalau dibandingkan sama harga di Pontianak, haha. Ya jelaslah agak jauh beda. Secara gak kena ongkir hehe.

Kedua, komplek rumah ortu yang sekarang dekat dengan beberapa rumah kawan SMA saya. Dan seminggu lalu, saya udah sempat ketemuan dong dengan salah satu kawan saya, hehe. Nostalgia membawa kenangan #eh #uhuks. Ketiga, di komplek rumah ortu yang ini, gak banyak anjing kayak  sebelumnya. Keempat, tetangga kanan-kiri, pokoknya sederetan alhamdulillah muslim. Ya kali, di pangkalan ojek dekat rumah terpampang nyata tulisan dan beberapa poster "Israel Terorist!" atau "Save Gaza". Plus bendera Palestina. Paling kerjaan dari pengurus DKM masjid istiqomah, hohoho.

Minusnya? Ada dong. Keamanan di komplek rumah ini kurang terjaga. Satpamnya antara ada dan tiada. Setiap keluar-masuk gerbang rumah sendiri, kudu digembok dan bawa kuncinya. Ribet deh. Apalagi pas papah denger dua minggu lalu rumah yang dekat pasar kecolongan motornya siang bolong ckckck. Katanya sih, pencurinya pakai cairan kimia buat ngerusak gembok. Mungkin pakai asam pekat kali yes. Wah. Papa makin-makin aja worry-nya. Tapi ya sudahlah... ikhtiar kenceng lalu pasrah. Sebaik-baik penjaga hanya Allah.

Poin pentingnya adalah: JANGAN DZHOLIM sama tetangga. Ini #ntms banget buat saya juga. Mbok kalau pelihara hewan ya monggo. Tapi inget, ada hidung orang lain yang kudu dijaga juga.

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (Muttafaq ‘alaih).

Nah. Ini self reminder pake bangetnget buat saya.

Lalu poin selanjutnya, kalau pilih lingkungan rumah emang yang kudu kondusif, aman dan cukup ramai. Yang jelas buat saya, dekat dengan masjid, puskesmas dan tempat belanja hehe.

So, buibu, yuk mari. Kita ikhtiar menjaga lingkungan sekitar kita agar nyaman dan tenteram untuk ditinggali bersama. Gak hanya untuk keluarga, tapi juga tetangga kita.

09 Maret 2017

Beberapa Hal yang Wow Bagi Saya Setelah Menikah



Saat menjadi istri dan ibu, saya kadang merenung sendiri … ternyata banyak hal wow yang bisa saya lakukan. Bukan mau pamer atau sombong sih. Sekadar share aja, hehe. Saat masih gadis, saya gak bisa bikin kue/roti (tapi kalau masak standar masih bisalah, ya…), saya gak bisa pasang gas, gak bisa angkat galon ke dispenser hahaha, saya gak terlalu suka sama yang namanya kerajinan tangan, saya gak terlalu peduli sama kebersihan serta keindahan wkwk, mmm… apa lagi ya. Ya intinya, ketika saya berstatus sebagai istri dan ibu, apa-apa yang tadinya saya gak bisa, berubah jadi yang saya bisa lakukan.

08 Maret 2017

24 Jam Rasa Sekejap



Iya bangeeeet. Meski bangun pagi (semoga istiqomah, aamiin) diusahakan jam tiga atau setengah 4, tapi waktu terasa sebentar banget. Selesai QL, ngulang hafalan sebentar. Langsung bebenah sambil nunggu adzan subuh. Setelah sholat, lanjut masak untuk sarapan. Alhamdulillah, Abahnya Mursyid super banget dan bisa diajak kerja sama. Beliau belanja sayur dan yang mandiin Mursyid sebelum siap-siap kerja. Sambil masak, nyuapin Mursyid. Meski ada khadimat (yang bantu nyuci Alhamdulillah) tapi tetep aja. Masak-masak-masak, jarum jam udah menunjukkan pukul setengah sembilan atau jam sembilan.
Dari sini

07 Maret 2017

Saya Kangen Gak?



Judulnya emang apa banget. Tapi maksudnya sih, lagi tanya sama diri sendiri. Kalau dihitung-hitung, kurang lebih hampir empat tahun gak berhubungan dengan profesi Apoteker. Setelah disumpah, ikut suami yang lagi kuliah ke Jogja setahun. Mau kerja di sana juga nanggung banget. Alhamdulillah, hamil kedua di Jogja (Mursyid), makin gak menguatkan azzam kerja hehe. Pasca melahirkan, ditawarin kerja lagi sama suami. Beliau sih gak melarang. Cuma disuruh menimbang dan menakar #lha… saya yang sungguh gak rela harus ninggalin bayi unyu macem Muhammad Tsaqif Al-Mursyid. Meski bisa ASI-perah, tapi entahlah. Rasa gak tega itu, bikin saya meleleh-leleh jika harus kembali ke Apotek.
Perasaan sedih atau kangen itu kadang muncul kalau lihat jas apoteker di lemari atau ijazah S.Farm plus Apt-nya. Nyess aja gitu pas baca Rizki Khotimah, S.Farm., Apt. 
foto dari akun IG sendiri hehehe


26 Januari 2017

Kamu Me Time Apa?



Beberapa waktu lalu di facebook, saya mendapati tulisan yang cukup viral di kalangan mamah-mamah muda. Tentang? Itu lho … tulisan yang intinya, seorang bapak memperbolehkan sang ibu berjalan-jalan sendiri tanpa dirusuhin urusan tetek bengek rumah tangga terutama anak, hehe. Kata lain yang lebih beken dan familiar adalah me time.
gambar dari sini

25 Januari 2017

Ganti Nama Buat Ngeksis (?)

Yuhuuu....

Setelah berbulan-bulan lamanya gak nulis di blog, hoho. Bukan. Tentu aja ganti alamat blog bukan buat ngeksis. Tapi lebih megarah pada kepraktisan penyebutan. Iya, secara kiki-diarysunflower itu lumayan ribet gimana gitu. Kalau penyukabungamatahari juga ribet sih tapi ya mendinglah haha *ngeles.

Pingin nulis di blog lagi karena yaa, semoga ada yang baca (pede buedh gue haha). Dan pada tulisan yang saya buat, ada semacam hikmah meski berserakan yang bisa diambil *tsaaah. 

Gak mau kebanyakan janji. Tapi ya semoga aja bisa istiqomah. 

Dan, berharap kelak, umur suami dan Mursyid lebih panjang dari saya, dan berkah tentunya, sehingga bisa membaca tulisan umminya yang kadang gak jelas ini (seringnya jelas kok haha). Bismillah~

01 Mei 2016

[Resep] Brownies Kukus No Mixer, Simpel dan Cepet :D


Halo~
Beberapa waktu lalu, saya nyobain resep bikin donat tanpa kentang, tanpa mentega, tanpa susu (duh, boros kata ‘tanpa’). Berhasil sih. Cuma rasanya belum nampol, hahaha. Ya iyalah … tapi it’s okelah. Tinggalkan dulu donat tanpa-tanpa itu. Saya beralih ke resep brownies serba 2-4 sendok makan, mehihihihi. Langsung aja deh. Cekidot~

19 April 2016

Fiksimini dan Sebuah SMS :D

Wohoo! Alhamdulillah. Malam ini Alloh kasih rizki beruntun. Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah.

Jum'at atau hari apa ya? Lupa. Ada kuis di FP Mbak Afifah Afra. Buat fiksimini yang mengandung frasa #PenculikanSangProfesor. Saya gugling dulu syarat fiksimini yang baik itu gimana. Ternyata 140 karakter karena fiksimini berawal dari media sosial twitter (sama kayak jawaban dari Ruru, makasih Ru :*). Bingung pala berbie juga sih, hanya dalam 140 karakter bikin suatu cerita yang unik dan bermakna. Hm, keingetan MSBT OWOP yang aku buat "Tragedi Mawar Putih", jreng jreng jreng ... tiba-tiba dapet ide. Dan jadilah : 

17 April 2016

[Resensi] Jilbab Traveller Love Sparks in Korea

Membaca "Love Sparks in Korea" buah karya Asma Nadia, seperti  menyaksikan sebuah drama korea bergenre romance. Membuat hati kebat-kebit, kadang senyum sendiri. Tapi tak hanya tentang cinta, dalam novel ini saya menemukan semangat heroik dari seorang Rania Samudra. Seorang gadis yang tadinya 'bukan siapa-siapa' namun berhasil menggapai cita. Menjadi seorang penulis, juga jilbab traveller yang menelusuri kekuasaan Alloh dari satu negara ke negara lain. Lalu pada Negeri Gingseng, hati Rania lambat-laun tertambat pada Hyun Geun. Lalu bagaimana dengan seorang pria bernama Ilhan yang juga menaruh hati pada Rania? Novel ini menyajikan peristiwa hati yang terbalut keikhlasan. Ada bumbu rindu juga cemburu sebagai penyedap.

Adalah Hyun Geun, seorang pemuda korea yang cukup dingin dalam memandang hidup. Bagi Hyun Geun, hidup yang ia tangkap dari lensa kameranya hanya sebatas pada warna hitam atau putih. Hitam yang seolah mewakili perasaannya kepada suami Chin Sun --Chin Sun merupakan cinta pertamanya. Putih yang berasal dari rasa sayang, cinta, kagum juga kesetiaan yang Hyun Geun rasakan pada Chin Sun. Lalu takdir membawa Hyun Geun menemukan warna pelangi lewat Rania. Cintakah? 

Novel ini cukup sukses membawa imajinasi saya terbang ke korea. Seperti pada halaman 331, Hyun Geun memberikan penjelasan kepada Rania tentang kuil tertua di Busan :

"Saya berharap kamu mengenakan sepatu yang nyaman, karena paling tidak ada 100 anak tangga yang harus kamu lalui untuk sampai ke kuil. Jangan lewatkan detail kuil ini. Kamu akan mengerti betapa Beomeosa merupakan salah satu kuil paling mewah dan arsitektur peninggalan Dinasti Joseon-nya yang tergarap sangat halus dan baik... "

Kelak ketika ada rizki dan kesempatan ke sana, saya akan mengenakan sepatu yang nyaman seperti yang Bunda Asma Nadia pesan lewat tokoh Hyun Geun.

Oh. Namun saya cukup terkejut dan mengerutkan kening manakala sampai pada pengakuan Hyun Geun yang sudah mualaf sejak sebelum bertemu Rania. Well, saya bukannya tak suka. Memang yang namanya hidayah tak ada yang mampu mencegah. Hanya saja, saya merasa akan lebih mencerahkan jika Bunda Asma Nadia menyelipkan sedikit perjalanan Hyun Geun menjadi seorang muslim saat tokoh ini diceritakan pernah tiga tahun kuliah di Indonesia. Atau memang sudah ada kisah Hyun Geun pada novelnya yang lain?
Bagaimana pun, novel ini manis dan sayang jika terlewatkan. Memberi pelajaran tentang cinta, membawa kita seolah terbang ke negara lain, juga mengajarkan untuk tak menyerah pada mimpi.

Judul : Jilbab Traveller Love Sparks in Korea
Penulis : Asma Nadia
Penerbit : Asma Nadia Publishing House
Tahun Terbit : 2015
Tebal Buku : vii+380 hlm.; 20.5 cm x 14 cm
ISBN : 978-602-9055-39-9

13 April 2016

[Resep] Pempek Sutra Gak Pake Ribet



Hai~
Saya mau sok-sokan kasih resep lagi nih. Resep masakan dong. Bukan obat~
*apa sih, Ki*

“Pempek Sutra” gak pakai ribet. Simpel dan cepet banget. Saya dapet resep ini dari grup masak di FB yang saya ikuti. Sambil nunggu adonan mateng dikukus, saya sambil nonton drakor “Nightmare Teacher”. Hayati galau-galau takut, Bang~. Bukan drama horror sih. Tapi ya tetep aja … nonton malem-malem, Bo. Bapaknya Mursyid masih di luar rumah. Mursyid udah bobok sholeh. Halah malah bahas drama. Cekidot resepnya ya~

25 Maret 2016

[Resep] Banana Cake


           Kali ini mau sok-sokan bikin resep kue ala-ala akoh, wahahahaha. Selama ini jarang eksekusi buat cake atau semacamnya karena Mursyid alergi susu sapi beserta turunannya, heu. Nah, kemarin iseng selancar di facebook, ketemu resep banana cake punya Siti Eko Lestari yang kelihatannya sih gak pake ribet. Bahan juga gak pake mentega, susu atau keju. Bisa dioven atau dikukus. Hmm, yuk lah coba buat. Menurut aku sih, resep banana cake ini cocok buat amatiran kayak aku yang gak jago buat kue.  Oiya, makasih loh buat Bapaknya Mursyid yang udah ngebantuin XD
            Cekidot~

08 Juli 2013

(curhat berhikmah) Ingin Sepertimu, Mbak

Bismillahirrohmanirrohiim...

Sebenarnya ingin menulis tentang perjalanan Umroh bulan Sya'ban kemarin dan tentang tamu agung yang sudah datang (Hari ini aku sudah shoum, loh..). Tapi kuurungkan. Tergelitik ingin menuliskan sesuatu yang menurutku, begitu membuat diriku speechless...

12 Juni 2013

Kota Tua Bagiku

Selalu ada cerita tentangmu, walau aku sudah lama tak mengunjungimu. Selalu ada sejumput rindu yang tulus memenuhi rongga hati milikku. Selalu malu saat ingat pertama kalinya kujejakkan kaki sambil bersumpah serapah, “Aku benci ada disini”. Aih, harusnya aku tak melupakan petuahkala itu. Tak bolehlah kita terlalu membenci sesuatu, sebab hanya Dia Sang Maha Penentu.

04 Juni 2013

(curhat) Setahun Lalu

Bismillahirrohmanirrohiim..


Tulisan ini seharusnya ditulis dan diposting tepat setahun lalu. Bulan Mei&Juni. Hari bersejarahku di Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto. 

(curhat) PKPA Rumah Sakit

Bismillahirrohmanirrohiim..

Alhamdulillah, segala puji untuk Engkau Yaa Rabb. Praktek Kerja Profesi Apoteker di tempat terakhir, Rumah Sakit Islam Cempaka Putih Jakarta Pusat, berakhir sudah tanggal 31 Mei 2013.Tanggalnya bertepatan dengan tawaran ta'aruf dengan suamiku :D setahun yang lalu dari seorang Mbak..Hehe.

27 Mei 2013

(Sajak) Jeda Senja





Aku pernah bertemu denganmu saat airmata tak mampu kutahan,tak berdaya,
Aku pernah menangkap bayangan punggungmu kala senja menyapa,
Kita pernah berkisah apa itu cita-cita di masa depan,tentang asa..

Namun itu dulu, saat hati tak kujaga
Merasa mesra yang pernah meradang  menjadi sebuah Kata, Cinta..
Rindu yang dulu pernah singgah dihidupku untukmu, apa kabarnya?
Waktu telah menghapusnya tanpa pernah bertanya apakah aku terima
Takdir tak pernah salah, sebab Tuhan yang menuliskan pada lembaran kisah kita
Saat itu, sebelum kuputuskan untuk bersamanya, aku pernah memutuskan tuk ambil jeda
Sesaat saja,
Khawatir hati tak mampu melangkah dengannya
Namun, lembayung sore dengan jingganya seolah berkata,
“Belajarah tuk dicinta”

03 Mei 2013

(curhat) Sekilas PKPA di Apotek

Bismillahirrohmanirrohiim..

Done!PKPA di Apotek Kimia Farma M*, berakhir. Sebulan kemarin merasakan 'kerja' sebagai AA dan Apoteker, walau jujur, kebanyakan ngerasainnya kerja jadi AA. Haha.. Gak tau sih, ini 'dosa' siapa. Sehingga, yang namanya Praktek Kerja Profesi Apoteker menjadi Praktek Kerja Profesi Asisten Apoteker. Hihi..Gak ada salahnya juga kok, toh, dasar-dasar ilmu meracik dan sebagainya seorang Apoteker juga HARUS paham. Malah kudunya lebih jago dari seorang Asisten Apoteker (AA). Tapi..Ah, ya sudahlah. Toh kemarin aku dapat banyak ilmu mengenai tugas dan tanggung jawab seorang Apoteker dalam sebuah Apotek itu seperti apa dan bagaimana. Ada berapa hayooo tugasnya??. Kalau yang baca tulisan ini orang farmasis atau seseorang yang udah jadi apoteker tapi gak bisa jawab, hmm, kebangetan..

02 April 2013

Dompet Jadul

Tadi pagi lagi asik edit tulisan di blog. Tiba-tiba mama panggil dari bawah. Minta temenin belanja. Ok sip. Udah lama juga gak belanja..

Kata mama "Kamu gak mau beli dompet?Dompet udah jelek gitu"
Aaaaakkkk. Jleeeb!. Tapi emang iya sih..
Pernah juga ada yang bilang "Ih, dompetnya kayak masih bocah banget. Jadul lagi".

-____-"
emang sih, dompetku yang sekarang itu dari jaman kuliah S-1. Jujur banget, aku tuh ga pemerhati penampilan. Toh jarang juga ngeluarin dompet. Secara kalau aku kemana-kemana, uang yang ada dalam dompet dipindah ke bagian depan tas.Hehe..

Tapi setelah kupikir, "Hey Ki, inget. Kamu tuh udah bersuami. Mungkin kamu gak malu. Tapi suamimu?". Mas sih gak pernah protes. Tapi kasian juga kan, kalau temen-temen Mas yang liat "ya ampun, dompet istri Syahri begitu banget" .Gak sih, ga ada yang mikir begitu. Lebay aja pikiranku. Ah, tapi gak ada salahnya juga ganti dompet. Udah ada hampir lima tahun juga itu dompet. Hihi..


dompet dari jaman S-1
Akhirnya mampir ke Giant Ujung Menteng deket rumah. Mama liat ada dompet bagus dan manis. Harganya juga manis :D. Kalau mama yang pilih, pasti cewek banget. PINK. Oh, Alloh-kuuu. Tapi gak apalah. Seumur-umur kayaknya belum pernah punya dompet warna pink. Hehe..



Manis kan, kayak yang punya :))