24 Februari 2017

[SBT: Friendship] Chapter 4 - Misi Wanda



SBT adalah kepanjangan dari Story Blog Tour, yang merupakan salah satu program komunitas menulis One Week One Paper. Dengan adanya SBT ini, anggota belajar untuk menyelesaikan satu cerita bersama-sama. Tema SBT kali ini adalah FRIENDSHIP!
Settingnya anak SMA. Yaaa you know lah gimana serunya masa-masa itu… hohoho. Oh iya, cerita di bawah ini fiksi, yaaa! Kalau ada kesamaan nama tokoh, nama sekolah dkk, itu semua gak di sengaja kok, hehe.
Semoga cerita SBT kali ini tetap bisa dinikmati seperti SBT-SBT sebelumnya. Semalat membacaaaa :) Komen yah. Kritik dan sarannya ditungguuu <3 <3 <3
Btw, ini cerita sebelumnya. Kalau kamu mau nyambung baca ceritanya, nikmati sesuai urutan:
  1. Nana: Misteri Dana Operasional
  2. Depi: Pertemuan
  3. Naimas: Perbincangan Di Kafe 

26 Januari 2017

Kamu Me Time Apa?



Beberapa waktu lalu di facebook, saya mendapati tulisan yang cukup viral di kalangan mamah-mamah muda. Tentang? Itu lho … tulisan yang intinya, seorang bapak memperbolehkan sang ibu berjalan-jalan sendiri tanpa dirusuhin urusan tetek bengek rumah tangga terutama anak, hehe. Kata lain yang lebih beken dan familiar adalah me time.
gambar dari sini

25 Januari 2017

Pontianak Post 5 Juni 2016



                Alhamdulillah yah, tahun kemarin yang baru beberapa hari lewat, tepatnya tanggal 5 Juni 2016, hehe. Terbit cerpen pertamaku di media! Ayey! Meski koran lokal, tapi itu juga udah syukur banget. Cerpen ini awal mulanya berasal dari tantangan untuk nge-remake dongeng yang diadain sama Ruru di grup OWOP (one week one paper). Well, sebenernya sebagai seorang ibu muda, ada beberapa dongeng dari luar negeri yang agak gak sreg di saya. Bukan gak suka sepenuhnya kok. Tapi hmm, ambil kisah Putri Cinderella yang ceritanya udah melegenda seantero dunia. Tentang seorang anak tiri yang disiksa oleh ibu dan saudara-saudara tirinya, lalu ada ibu peri dan triiiing! Jadilah putri dalam waktu semalam, datang ke pesta dansa kemudian bertemu pangeran kerajaan. Terjadilah insiden ketinggalan sepatu kaca tepat jam 12 malam teng, karena jika melewati jam 12 malam, sang putri akan kembali lagi mengenakan pakaian compang-campingnya. Nahas pangeran menemukan sepatu kaca yang tertinggal karena Cinderella terburu-buru meninggalkan ruang pesta. Kadung jatuh cinta, pangeran itu akhirnya mencari ke mana-mana pemilik sepatu kaca itu. Sampailah pada akhir cerita yang happy ending, pangeran bertemu Cinderella dan hidup bahagia selamanya.

                Hm, ketika nanti Mursyid mendengar kisah itu, akan saya jelaskan pesan moralnya begini:

                Kesulitan hidup itu adalah tarbiyah dari Allah. Lantas tujuan bersabar bukan karena dunia semata (mendapat harta, pasangan kaya dsb). Tapi karena percaya janji Allah itu pasti. Jika di dunia Allah belum kabulkan, maka surga adalah segalanya.

                Dan akhirnya, saya mendapat ide membuat cerpen dengan kisah seperti ini. Cekidot~

Ganti Nama Buat Ngeksis (?)

Yuhuuu....

Setelah berbulan-bulan lamanya gak nulis di blog, hoho. Bukan. Tentu aja ganti alamat blog bukan buat ngeksis. Tapi lebih megarah pada kepraktisan penyebutan. Iya, secara kiki-diarysunflower itu lumayan ribet gimana gitu. Kalau penyukabungamatahari juga ribet sih tapi ya mendinglah haha *ngeles.

Pingin nulis di blog lagi karena yaa, semoga ada yang baca (pede buedh gue haha). Dan pada tulisan yang saya buat, ada semacam hikmah meski berserakan yang bisa diambil *tsaaah. 

Gak mau kebanyakan janji. Tapi ya semoga aja bisa istiqomah. 

Dan, berharap kelak, umur suami dan Mursyid lebih panjang dari saya, dan berkah tentunya, sehingga bisa membaca tulisan umminya yang kadang gak jelas ini (seringnya jelas kok haha). Bismillah~

18 Oktober 2016

Jembatan Kayu dan Perahu Kertas Alya

Alya melipat surat yang semalam ia buat. Subuh tadi ia menyelinap keluar rumah dengan sangat hati-hati. Takut kalau-kalau ada yang menyadari kepergiannya. Ditemani gadget dan headset yang terpasang di telinganya, Alya menembus gerimis yang dirasa amat ritmis. Di sinilah sekarang ia berdiri. Di atas jembatan kayu tempat dulu Alya dan Tezar kecil banyak menghabiskan waktu.

"Alya, coba kamu hanyutkan perahu yang sebelumnya kamu tulis harapanmu. Kalau sejauh mata kita memandang, perahunya gak rusak berarti terkabul." Begitu Tezar kecil pernah berkisah suatu petang.
Sebentar lagi mimpi Alya terwujud. Dulu sekali, kertas bertuliskan nama Tezar dihanyutkan Alya. Bukan. Alya tahu apa yang diinginkannya menjadi nyata sekarang ini bukan karena perahu kertas. Benar bahwa Tezar akan mengikrarkan janji di hadapan Tuhan pagi ini; menjaga Alya seumur hidup.

Beberapa potong episode antara Alya dengan Elisa terputar sendiri. Lagu Lee Hi-Can You Hear My Heart mengalun merdu. Rasa sesak yang berjejalan sejak lama, kian mendera hati Alya. Menyebabkan perih teramat sangat. Tanpa sadar, Alya makin terjebak dalam labirin kenangan. Penyesalan? Iya. Meski kadarnya tak banyak. Tezar melamar Alya beberapa bulan lalu. Seperti mimpi Alya selama ini. Alya akan memiliki raga Tezar dalam hitungan jam lagi, namun tidak dengan hati Tezar. Ya. Alya sadar itu. Sosok Elisa memang telah hilang, namun rindu Tezar tak pernah berubah. 

Apakah cinta harus berakhir dengan pernikahan? Pertanyaan itu terus memenuhi kepala Alya. Tapi tentu saja jika mendadak semua ini dibatalkan, banyak hati yang tersakiti.

Apa ini hukuman dari lo, El? Apa lo merestui? Apa itu cinta, El?

Alya melarungkan surat yang ia sudah selesai ia bentuk menjadi perahu kertas. Sejauh mata Alya memandang, perahu itu masih utuh. Tidak hancur. Sesungging senyum hadir di bibir Alya. Kakinya melangkah pulang. Bebannya sedikit hilang bersama dengan perahu kertas. Ada harapan yang terbit diam-diam. Ada kesemogaan yang Alya amini.

Dear, Tezar.

Entahlah ada apa dengan gue. Dari kemarin, gue berdoa pada Tuhan untuk mengambil nyawa gue. Tapi nyatanya sampai semalam saat surat ini ditulis gue masih bernapas. Tatapan kosong mata lo saat memandang gue, cincin yang lo lingkarkan di jari manis gue, senyum lo, semua itu terasa dingin. Gak ada kehangatan seorang Tezar. Gue ragu melangkah. Bahagia itu apa, Zar

Gue ... udah minta sama Tuhan untk mengambil nyawa gue setelah kita nikah. Yang jelas, gue dulu yang ninggalin lo dan Elisa... ah, anggap aja ini hukuman buat gue karena mengoyak mimpi lo dan Elisa. Semoga suatu hari kalian tersenyum mesra, saling merenda cinta dalam ikatan pernikahan. 

Dari yang sangat mencintai Tezar,
Alya.

13 Oktober 2016

[SBT OWOP] Terhempas dari Cinta

Halooooow~

Udah lama gak ngeblog. Maaf, ya blog. Aku sibuk sih wkwkwk. Gak juga ding. Males sih intinya hihihi. Oke. Sekian lama gak isi blog, dateng2 aku bikin SBT OWOP dengan genre romance-angst. Well yeah... sedikit menakutkan karena ada iris-mengiris lengan wkwk. Tapi seru kok. So, cekidot ya! 

bagian 1 Nifa: Luka Elisa
bagian 2 Asti: Self Harm
bagian 3 Ara:  Friendzone
bagian 4 Nana: Dua Sisi Koin
bagian 5 Zu: Teman Baru
bagian 6 Ruru:  Permulaan
bagian 7 Nadita: Diluar Dugaan
bagian 8 Depi:  Luka

***
Terhempas dari Cinta

"Elisa, gimana keadaan lo?" tanya Alya sambil meletakkan buah-buahan di meja samping tempat tidur Elisa.

Elisa berusaha untuk bangkit meski dipaksakan. 

"Eh, kalo sakit gak perlu bangun." Alya menopang tangan kanan Elisa, membantu Elisa duduk. 

"Gue ... maaf ya. Gue ... gak tahu harus bilang apa." Bahu Elisa terguncang hebat, tangisannya keras. Sayang, Elisa tidak menyadari betapa dingin tatapan gadis yang ada di hadapannya.

Alya menarik napas pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sesungging senyum dipaksakan Alya untuk melengkung indah. Dipeluknya bahu Elisa. "Kita sahabat 'kan?" 

***

Alya menutup pintu kamar rawat Elisa dengan dada yang bergemuruh rusuh. Ada rasa tak suka yang ditahan kuat-kuat. Ada keinginan membunuh yang berusaha dilenyapkannya. 

"Alya?"

Alya terkesiap. "Oh, hai, Zar."

Tanpa memandang Tezar, Alya ingin buru-buru pergi. Takut rasa iri serta dengki itu tak mampu disembunyikan Alya lebih lama dan terlihat jelas di wajahnya. Alya khawatir Tezar semakin jauh darinya.

"Eh, Al ... tunggu. Tangan lo kenapa?" Tezar terkejut melihat perban yang terbebat rapi di tangan kiri Alya.

"A ... anu ... " Alya tergeragap. "Semalem gue cuci piring terus pecah dan gak sengaja kena..." Tentu saja semua itu dusta yang Alya karang. Jawaban yang sama dilontarkan Alya ketika ditanya Elisa tadi.

"Masa, sih?" Tezar menautkan alis, tak percaya dengan ucapan Alya. Bagaimana pun, Tezar dan Alya saling kenal sejak kecil. Kebohongan Alya mampu Tezar tangkap meski hanya sepercik. 

"Iya. Lo mau ketemu Elisa 'kan? Dia udah nunggu kayaknya. Gue pergi dulu, ya." Alya berjalan memunggungi Tezar yang masih dilanda kebingungan dan banyak pertanyaan.

"Eh, Zar ... " Alya membalikkan badannya tiba-tiba. "Jangan lupa makan."

Tezar mengangguk, lesung pipi sebelah kanannya terlihat jelas.

Gue gak rela senyum itu juga untuk Elisa, Zar. Alya membatin dengan hati terkoyak. 

Sepanjang jalan, Alya terkenang masa kecilnya bersama Tezar; saat Alya diajari naik sepeda oleh Tezar, saat mereka dikejar anjing galak, saat lutut Alya terluka dan diobati Tezar, saat Alya memeluk Tezar yang kesepian di suatu senja.

Semua itu berkelindan dan berubah menjadi pisau belati yang menusuk hati Alya. Merajam  cinta Alya hingga mati dan berubah menjadi kepingan. Alya ingin berteriak kuat, menumpahkan katarsis yang menyesakkan jiwa. Mengapa cinta? Kenapa Elisa? Bagaimana bisa rindu dan cemburu melebur, lalu memenuhi rongga dadanya? 

Petang ini, air mata yang membanjiri pipi Alya menjadi saksi. Bahwa jarak antara cinta dan benci sangatlah tipis. Tidak! Alya tidak pernah benci Tezar... Alya hanya kecewa pada hatinya yang jatuh kepada laki-laki yang dikenalnya sejak kecil. Lalu Elisa? Sesungguhnya, meski hanya sedikit ... rasa kasihan pada gadis itu nyata. Tapi cemburu dan benci adalah bahan bakar untuk api yang berkobar dan sanggup membumihanguskan nurani dalam sekejap; Elisa harus lenyap selamanya.

***

Alya menatap langit kamarnya dengan pandangan kosong. Tezar dan Elisa lagi apa, ya? Pasti ketawa bahagia. Terus gue? 

Alya mengalihkan perhatian pada perban yang melilit lengannya. Dibukanya perlahan. Dilihatnya bekas luka yang masih basah. Tangan kanan Alya meraih gadget dari kantong rok abu-abunya. Sampailah ia pada laman sebuah forum: Young Blood. Lalu dengan cekatan, Alya mengetik pada sebuah thread. Tepat di atas kolom reply milik Elisa.

Ternyata patah hati lebih sakit dari punggung tangan yang sengaja gue bikin luka, ya, hahahaha...
Ehya Elisa, lo gak ada niat untuk pindah dunia ke surga misal? Gimana kalo kita mati sama-sama?
 
Tentu saja akunnya bukan bernama Alya. Azsa.

***

Elisa mengerutkan keningnya. Azsa? 

Tezar memerhatikan Elisa yang terpaku pada layar gadgetnya sambil mengupas kulit apel. "Baca apa, El? Serius banget?"

Elisa gugup mendengar pertanyaan Tezar. Elisa merasa tak enak dengan Tezar. Elisa tahu bagaimana perjuangan Tezar yang selama ini ada di sampingnya. Ya. Curahan perhatian dan semangat yang selalu Tezar berikan ... cinta itu masih berbentuk benih dan janin yang selalu berusaha Elisa gugurkan. Tezar terlalu baik untuknya dan berhak memiliki kekasih yang sempurna, begitu yang Elisa catat selalu. Lagi pula, trauma yang ditimbulkan dari pertengkaran mama dan papa Elisa begitu membekas. Cinta pria dan wanita terlalu semu dan samar bagi Elisa. 

Elisa tak ingin Tezar tahu bahwa ia bergabung dalam sebuah komunitas yang menggiringnya pada kematian. Mungkin saja... Azsa benar... 

Papa bilang, aku sebuah kesalahan? Elisa kembali tergugu. 

"El, lo kenapa? Kok nangis lagi?"

"Zar, papa bilang ... gue adalah kesalahan. Gue gak tahu maksudnya apa... " Alya berkisah sambil sesenggukan. 

Tangan Tezar berusaha menggapai Elisa. Tezar ingin memeluk gadis yang ada di hadapannya, namun urung ia lakukan. Tezar hanya mampu menepuk-nepuk bahu Elisa untuk ditenangkan. Seandainya semua penderitaan lo mampu gue pindahkan ke dalam diri gue, El. 

***

Tezar menyelimuti Elisa yang terlelap setelah menangis agak lama. Kemudian, ia meraih HP Elisa yang layarnya masih berkedap-kedip. 

Young Blood? Azsa?! Siapa dia? Forum sialan apa ini? Pekik Tezar yang tertahan di kerongkongan.

***

01 Juni 2016

Cake Cokelat dari Tepung Beras

Rame2 soal gluten, well, agak susah kalau kita bener2 mau free. Prinsip saya, selama gak berlebihan insyaa Alloh kesehatan terjaga. Apapun itu. Walau buat cake buat Mursyid, saya batasi konsumsinya. Saya jadwal makannya. Sisanya bisa dikasih anak tetangga :). Jadi pinter2 kita aja supaya anak kita gak terlalu ketagihan banget sama cake, hehe.

Kali ini aku mau coba buat brownies dari tepung beras. Cuma kok setelah jadi, rasanya gak mirip brownies, wkwkwk. Ya udahlah, yang penting halal dan enak mehihihi :D.